I Am Losing The Moon While Counting The Stars

Never ignore a person who loves you, cares for you, and misses you. Because one day, you might wake up from your sleep and realize that you lost the moon while counting the stars.

Kisah ini berawal beberapa tahun lalu, gw sendiri lupa angka pastinya. Waktu itu liburan lebaran jadi gw pulang ke Solo. Sebenarnya ada agenda tersembunyi dibalik kepulangan gw ke Solo. Gw pengen nemuin seorang cewek yang nantinya berhasil membuat gw melihat dunia ini dengan cara yang berbeda.

Awal gw ngerti tentang eksistensinya adalah dari Facebook, dan dia adalah pacar temen gw, temen yang pernah deket dengan gw, namun ga tau lagi sekarang dia ada dimana. Lalu gw pun menambahkan dia ke dalam daftar pertemanan gw. Satu hari, dua minggu, tiga bulan, mungkin satu atau dua tahun dia baru mengkonfirmasi permintaan pertemanan gw, bahkan waktu itu gw udah lupa dia siapa. Ternyata dia bukan seseorang yang terlalu aktif di jejaring sosial.

Conversation started May 24, 2011

Dilihat dari pesan tersebut, mungkin gw udah berhubungan dia lebih lama karena gw udah smsan dengan dia. Dan dia panggil gw Bebbi, gw pun sepertinya memanggil dia dengan panggilan yang sama. Gw ga habis pikir dengan gw waktu masih berumur lebih muda dibandingkan sekarang, cheesy

While I looking at my conversation with her, it looks like we met at late 2011.

Here is interesting story about our relationship, it is kinda looks like irony though. Dia ngomong ke gw kalau gw itu ga seperti kebanyakan cowok yang dia temuin, gw itu cuek. Meskipun gw ga habis pikir apa menariknya cuek? Dan hubungan gw pasang surut dengannya juga karena kecuekan gw terhadapnya. Mana ada cewek yang mau dicuekin? Sikap cuek gw yang bikin gw deket sama dia, sikap cuek pula yang menjauhkan gw sama dia. That’s what makes it special, I think.

Pertama kali ketemu, kami buka puasa bareng di wedangan / angkringan. Di wedangan Phinisi di daerah Tipes. Canggung rasanya, udah lama kami saling bertukar pesan singkat atau chit-chat di Facebook, tapi itu pertama kali kami bertemu. And damn! If that is not the most beautiful smile I ever saw. Her teeth is simply perfect, that is one of the reasons I like her. Disanalah gw dan dia memperjelas hubungan yang sempat menggantung tanpa kejelasan status, disanalah kami jadian. Disanalah gw baru tahu kalau dia ternyata adalah adik kelas gw waktu di SMP, dia kelas satu sementara gw kelas tiga. Dan disanalah gw tahu dia menyimpan foto gw dan riwayat pesan singkat sejak pertama kali kami bertukar pesan singkat selama ini.

Kami cukup lama menghabiskan waktu bersama di Solo, namun memang pada akhirnya kehidupan gw ga di Solo. Itu juga salah satu yang menjadi tembok barikade yang cukup tebal dengan hubungan kami. Dia berharap gw bisa balik ke Solo, sementara gw berharap dia bisa di Bandung. Lose-lose situation.

Setelah terakhir gw ketemu dengan dia, kami cukup bisa menjalin hubungan jarak jauh ini, tapi pada akhirnya komunikasi pun tidak cukup banyak membantu. Bagaimana bisa menjalin hubungan dengan gw, yang dia suka karena sikap cuek gw. Bagaimana bisa menjalin hubungan jarak jauh bila pada akhirnya salah satu orangnya ternyata adalah orang yang cuek. Orang yang lebih suka main DotA maupun programming atau nonton tv serial atau hanya sekedar membaca. Pada akhirnya orang tersebut memang tidak siap untuk menjalin hubungan khusus, karena pada kenyataannya dia lebih mengagumi, mencintai dirinya sendiri lebih dari siapapun. After all, the most important relationship starts with one’s self.

I’m a loner, I love to spend times without any company. I can think, work, create, and function well without someone’s nagging.

I am used to this and I don’t see it as a problem. I don’t have anything against society, I can socialize well, I love socializing.

But at the end of a day, what I really need is just a private space of my own. Just me and myself sorting things out.

I can’t function well with too many people around. I hate the sound of people’s sigh, I hate hearing complains, I hate loud voices.


– @katadochi‘s post pretty much sums up my thoughts

Pada akhirnya jarak bukanlah masalah, rindu yang jadi masalah, dengan sedikit banyak bumbu perhatian.

Kami putus.

Cukup menyesal juga gw sempet putus sama dia, keluarga gw udah deket sama dia. Dia cewek dengan senyum paling menawan yang pernah gw temuin. Jangan ungkit-ungkit cara dia bermain-main dengan tangan gw, Oh God! I can really use her hug right now.

Distance means so little when someone means so much. Yeah, I love her, I do really love her. She means *that* much to me. Setelah kami putus, kami tetap berhubungan, mungkin frekuensinya malah lebih banyak dibanding ketika kami masih pacaran. Setelah beberapa lama, gw sibuk sama kuliah dan kerjaan gw, dia sibuk dengan apapun aktifitasnya, kami lost contact selama beberapa saat, bulanan.

Gw inget dulu waktu pulang naik motor di daerah Buah Batu, gw pakai tas, kebetulan di tas itu nempel pin National Geographic yang dikasih dia. Ga tau kenapa, gw lupa, tahu-tahu pin itu jatuh, di tengah jalan. Gw tahu kalau pin itu jatuh, tapi gw terus jalan. Setelah mungkin lebih dari 100 meter, gw akhirnya balik arah, dan ngambil pin itu lagi. Ternyata gw emang belum siap buat kehilangan pin itu.

Setahun terakhir ini kami mulai dekat lagi, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk balikan. Lebaran kemarin gw balik dengan rencana pengen ketemu dia, namun sangat disayangkan ketika gw di Solo dia pergi bareng keluarganya ke Jakarta / Ponorogo, gw lupa. Satu-satunya kesempatan gw buat ketemu dia, dan waktu tidak terlalu bersahabat kala itu. Gw balik lagi ke Bandung tanpa pernah bertemu dengannya.

Old habits die hard!

Sikap cuek gw perlahan-lahan namun pasti menjauhkan lagi gw dengannya. How do you think this is gonna end?  We’ll be happy for what?  A few weeks, few months.  And I’ll start ignoring you.  And at first it’ll be okay.  It’s just me being me.  And then at some point, you will need something more.  You’ll need someone who can give you something I can’t. That is my thoughts at this point. And I knew I am right.

Finally I realize, relationship is not my cup of tea.

I am losing the moon while counting the stars. You know the moon is her, and stars are actually me. I don’t like myself, but I admire myself. Indifferent is my star, indifferent is what makes me special. And, I am afraid if I am change, I am losing what makes me special for her.

I never knew what love was until I met you, then when distance pulled us apart, I found out what true love is and that cost you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s