Senin 2 September, 2013

Gw sering banget denger kutipan ini, “Growing old is inevitable, growing up is a choice.“. Mau mengakui atau tidak, kutipan itu memang benar adanya.

Dewasa, apa yang membuat seseorang itu bisa dikatakan dewasa? Pertanyaan yang cukup sulit, dan jawaban pun bisa bervariasi. Pandangan orang tentang arti dewasa sangat beragam. Jalan hidupnya, apa yang dia baca, apa yang dia lihat, sangat menentukan apakah arti dewasa bagi orang tersebut.

Menurut gw, dewasa itu adalah tahu saatnya untuk peduli dan tahu saatnya untuk mengabaikan. Bagi diri gw sendiri, mencoba untuk tidak peduli itu lebih sulit daripada mencoba untuk peduli. Sering banget gw terlalu peduli apa yang orang lain omongkan, sehingga gw merelakan waktu untuk mengomentari apa yang dia omongkan. Padahal apa yang dia omongkan itu sering kali terasa tolol bagi gw, dan gw sangat membenci orang tolol. Mungkin orang tolol adalah kryptonite gw.

Don’t feed the troll!”, ever heard that phrase? Tapi troll disini sangat berbeda dengan orang tolol. Troll hanyalah memprovokasi, walaupun gw belum terlalu bisa membedakan antara orang bermaksud trolling dan orang tolol beneran.

Hampir setengah waktu harian gw, gw habiskan di dunia maya. Twitter, Facebook (sudah tidak terlalu aktif), forum-forum yang bertebaran di dunia maya, berita-berita provokatif. Dan tololnya gw, gw masih saja peduli dengan konten-konten yang provokatif. Apalagi konten yang memuat sesuatu yang berhubungan dengan hal yang gw suka.

Gw dari kecil dulu sudah suka Manchester United, gw ga bisa bilang kalau gw adalah fans fanatik tim tersebut. Karena gw agak benci hal-hal yang sudah masuk kategori fanatik. Namun dengan menonton tim tersebut main, gw ga perlu taruhan untuk membuat jantung gw berdebaran, membuat gw cemas kalau tim tersebut dalam kondisi tertekan, ataupun membuat gw sulit tidur kalau lihat tim itu kalah dalam pertandingan sebelumnya yang gw tonton. Heck, gw bahkan ga hapal nama-nama pemain di tim tersebut.

Tapi kenyataannya, di dunia maya, troll sangat bertebaran. Haters tim kesukaan gw tidak bisa dibilang sedikit. Yah gw tahu juga alasannya, my favorite team often fuck their favorite team, and fuck them really hard. Tapi apakah dengan alasan tersebut mereka mempunyai hak untuk menjelek-jelekkan tim kesukaan gw? Hell no! Bagi banyak orang, tim sepakbola bahkan bisa dibilang masuk ke level agama. Sangat tabu untuk mengomongkannya, apalagi mejelek-jelekkan agama orang lain.

Gw sangat menghindari untuk menyinggung tim orang lain di Twitter, karena gw tahu sendiri teman-teman Twitter gw bukan cuma dari agama #GGMU. Tapi kadang gw risih juga dengan mereka yang menjelek-jelekkan ataupun menyindir tim kesukaan gw. Tapi apakah hanya karena itu gw bakalan nge-unfollow mereka, apakah hanya karena perdebatan agama dan mereka yang mengagung-agungkan agama mereka, gw putus tali pertemanan itu? Well, like I said before, I try to not give a fuck!

Twitterland adalah ranah bebas, mereka bebas mengutarakan opininya. Menyusuri timeline di Twitter itu seperti menyusuri jalanan Bandung ketika sedang macet. Selalu saja ada mobil yang seenaknya sendiri memakan semua ruas jalan sehingga pengendara motor tidak bisa lewat, selalu saja ada pengendara motor yang naiknya ugal-ugalan sehingga memaksa pengendara mobil mengerem mendadak dan mengumpat pengendara motor tersebut.

Seenggaknya sekarang gw udah ga perlu lagi menyusuri jalanan Sarijadi – Dayeuhkolot (kurang lebih 20 Km, 40 Km pulang-pergi) setiap harinya. Tapi ketika di Twitter, rasa tidak nyaman, rasa stres tersebut muncul kembali, kadang membuat gw habis pikir. Tapi setidaknya lebih baik daripada harus menghadapi jalanan macet. Sebagaimana gw di jalan raya, yang tidak mengumpat ketika gw temuin hal tolol, di Twitter gw juga mencoba untuk tidak mengumpat atau mengomentari ketika gw temukan pernyataan tolol, dan lebih mencoba untuk tidak peduli.

Jadi, mungkin sebaiknya gw lebih mendalami lagi subjek “The art of not giving a fuck!”. Good afternoon!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s