Would you, please! Put your phone down, for one minute?

Let me get this clear first, I am not against technology, I guess I am against people.

Era teknologi seperti sekarang ini, yang membuat apa yang sebelumnya kompleks menjadi lebih sederhana. Kasus paling jelas adalah bagaimana cara orang berkomunikasi. Mungkin dahulu kala orang Afrika butuh sinyal berupa asap ataupun suara drum untuk saling berkomunikasi dengan sesamanya, atau mungkin seperti orang Eropa yang menggunakan sistem semaphore yang merupakan predesesor dari telegrap elektronik. Setelah itu, era telepon mulai masuk, dari yang masih analog hingga masuk ke era digital, dari fixed phone sampai ke mobile phone. Dan akhirnya internet, pondasi telekomunikasi yang paling muda, paling bebas, dan paling brutal.

Sebelumnya orang hanya bisa mengirim telegrap, lalu mereka bisa bertelepon, selanjutnya mereka bisa saling mengirim pesan pendek, dan ketika internet masuk ke perangkat bergerak mereka, BAM! Instant messaging, voice over internet protocol, push email, and God’s knows what else! It supposed to bring people who far away to be more closer, not the other way!

BBM, Whatsapp, KakaoTalk, Line, Telegram, WeChat, Telegram, I can go on! Path, Instagram, Twitter, Facebook, Skout, umm, well, I guess that’s the best I could do. Era media sosial dengan segala pernak pernik pesan instannya, jujur, membuatku sedikit agak muak. Bukan muak dengan teknologinya, tapi muak dengan perilaku orang dibuatnya.

Sekarang, kebersamaan dengan teman pun kurang “berasa” lagi. Mereka sibuk dengan gadget-nya masing-masing, entah meng-update status, nge-tweet ataupun ngerubah display picture. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri, sementara diluar sana, dunia masih berputar dan berharap mereka ikut berdansa bersamanya. Mereka lebih memilih ngobrol lewat media elektronik seperti itu dibandingkan dengan ngobrol tatap muka. Oh God, if they only knew what they are missing. Dan apa yang mereka obrolkan gw hampir 90 persen yakin hanyalah hal yang itu-itu saja. Pacar baru, gebetan baru, gosip baru, mempergunjingkan orang lain, tikung menikung (bukan arti sebenarnya). Same shit, different days

Dan, kasus yang sering terjadi lagi adalah, ketika nonton film, bisa-bisanya mereka masih berkutat dengan gadget mereka sedangkan dihadapan mereka ada film yang berharap untuk ditonton (pengalaman pribadi, and I fucking hate that!). Seakan-akan mereka tidak mengapresiasi apa yang dihadapan mereka. Mereka hanya sekedar menonton sekilas, mempostingnya ke Path / Twitter / mengubah personal message BBM mereka, lalu sibuk dengan gadget mereka lagi. Sedangkan mereka tidak akan pernah tahu tentang apa film tersebut. Okay, mungkin gw agak lebay disini. Tapi sebagai orang yang sangat mengapresiasi dan mencintai film, itu sangat menganggu. Ya, itu benar-benar menganggu, dan gw cukup sakit hati akan hal tersebut.

Kejadian seperti itu sangat sering, dan mungkin adalah makanan gw sehari-hari. Gadget yang gw punya hanyalah Nokia harga 1 jutaan, minim aplikasi namun ready internet. Gw hanya install Whatsapp meskipun sudah mendukung Line dan WeChat, namun gw ngerasa ga butuh yang lainnya. Dari sejak Blackberry booming hingga sekarang tak pernah sedikit pun gw tertarik untuk memilikinya, lagipula yang mereka jual hanya fitur BBM-nya, dan gw ga terlalu butuh hal tersebut. Bahkan menurut RIM sendiri, produk mereka sebenarnya untuk kalangan pebisnis, dengan secure line-nya, fitur untuk menunjang bisnis, bukan untuk sekedar berpesan instan. Gw gak akan memungkiri kalau gw punya gadget seperti itu, mungkin, gw akan menjadi sosok persis seperti apa yang baru saja gw omongin. Oleh karena itulah gw menolak untuk mempunyai gadget yang terlalu sophisticated. I am too old for that shit – Murtaugh Law.

Gw pernah waktu kuliah, karena handphone gw rusak, dan gw malas ngebenerin, gw 6 bulan (kurang lebih) hidup tanpa handphone. Dan gw ga pernah ngerasa hidup setenang dan sedamai seperti waktu itu. Dan akhirnya gw terpaksa beli baru lagi karena orangtua gw butuh komunikasi, dan mereka juga yang ngebeliin handphone baru gw tersebut.

Mungkin, mungkin, dengan meletakkan gadget kalian untuk sementara, kalian akan merasakan hal yang berbeda, berbeda belum tentu buruk, belum tentu juga baik. Namun, satu hal yang pasti, jika dengan meletakkan gadget, perbedaan yang terjadi buruk dirasanya, mungkin kalian harus menghubungi psikiater terdekat, ada kecenderungan addictive pada gadget. #instashame ? #tweegret ?

Tolong pertimbangkan hal tersebut. Tolong saat bersama orang lain, cobalah untuk sedikit memperhatikan mereka, cobalah untuk berinteraksi dengan mereka.  Cobalah untuk bertanya langsung pada mereka, apa saja kegiatan mereka hari ini, apa hal baru yang mereka temukan, apa kabar mereka, dan katakan pada mereka, dengan melihat senyuman mereka secara langsung, itu tidak akan tergantikan oleh hal apapun di dunia ini.

So, would you, please! Put your phone down, for one minute?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s